Feb 5, 2012

Pengakuan Maryoto


Kulihat Maryoto senyum-senyum sembari memandangi HP di tangannya. Tidak lama kemudian dia tertawa cekikikan di depan komputer di ruang kerjanya. Saya tidak ambil pusing. Mungkin dia baru menerima sms forward yang isinya gokil atau sedang browsing Dari  mbah google. Ya, hanya dia yang tau.

Maryoto adalah rekan kerja saya. Dia menjabat sebagai marketing manager di perusahaan tempat kami bekerja. Jabatan ini tidak didapatnya dengan mudah. Tapi dia melalui anak tangga karir di nol di perusahaan ini. Mulai dari Office boy. Siapa sangka seorang Maryoto dari office boy bias menjadi marketing manager? Tapi itulah kenyataannya. Keuletan dan kesetiaannya tak terkecuali rezeki dari Tuhan menuntunnya kepada jabatan itu. 

 Maryoto orangnya supel, mudah bergaul, dan baik hati. Pembawaannya yang luwes dan penuh canda tawa membuat para customer kami pun menyukainya. 

-------------
Hari ini, saya berencana pulang dari kantor tepat waktu. Karena sudah beberapa hari saya pulang malam karena kerjaan yang begitu padat. Setelah beberes peralatan kerja saya, saya berkemas sembari berdiri keluar ruangan saya. Kemudian mengunci pintu ruangan. Lalu saya menuju ruangan Maryoto yang kebetulan bersebrangan dengan ruangan saya untuk mengambil barang titipan saya. Saya memesan cake dari isteri Maryoto yang handal memasak itu.

Sembari keluar dari ruangan Maryoto, Maryoto sembari bergumam memanggil saya. Saya berbalik kembali masuk ke ruangannya. Lalu Maryoto bercerita tentang hal yang akhir – akhir ini mengganggu pikirannya.

“ Saya mencintai perempuan yang sudah bersuami bu” kata Maryoto membuka pembicaraan kami sore ini. Maryoto yang duduk di kursi kerjanyasembari   menyilangkan kedua tangannyadi bawah kepalanya sambil bersandar di kursi. Matanya menerawang jauh.

Duggg…. Hati saya tersentak. Tapi saya tidak menunggu kekagetan saya di hadapan Maryoto.Saya berusaha tenang dan mendengarkan kata-katanya.

“ Perasaan ini lebih bu. Lebih dari perasaan cinta saya kepada isteri saya. Perasaan saya ketika masih muda dulu”. Maryoto melanjutkan. 

Saya melihat kegalauan di pelupuk matanya.Saya melirik Maryoto, dia sepertinya sudah selesai dengan kata-katanya. Dia terdiam. Lalu sayamengambil alihkan pembicaraan.

“Dari mana kamu kenal perempuan itu?” kata saya.
Maryoto diam sejenak. Jelas terlihat hatinya galau.Lama baru saya mendapat jawaban darinya.
“Dari facebook bu”. Sahutnya pelan.
“Hahhhh….”  Kata saya tanpa sanggup menutupi perasaan kaget saya. Dalam hati saya menjerit. Ahhhh… Tuhan. Maryoto telah kena virus perselingkuhan lewat facebook.
“Apakah kalian sudah pernah kopdar (kopi darat alias ketemuan)?” desak saya
“Sudah bu” lanjut Maryoto pelan

Pembicaraan kami terhenti karena HP Maryoto bunyi. 

“ Mungkin ini sms dari dia bu”. Ujar Maryoto sembari membuka HP nya di depan saya. Dan betul, Maryoto mendapat sms dari wanita itu, wanita yang notabene isteri orang. Sudah mempunyai suami. Haruskah saya menyalahkan wanita itu?

Otak saya mulai berkecamuk. Kira-kira apa isi sms wanita itu? Apakah isinya ajakan untuk ketemuan sepulang kerja? Ataukah berbunyi seperti ini:” sudah mau pulang ya sayang, hati-hati di jalan ya. Muachhhh… muaacchhh… “ Ah, pikiran saya jadi mengada-ada.

“Saya harus bagaimana bu?” lanjut Maryoto memecah keheningan.

Saya diam. Saya bingung mau berkata apa. Saya bingung mau memulai darimana. Pikiran saya berkecamuk. 

Maryoto adalah teman kerja saya sudah hampir lima tahun di perusahaan ini. Saya cukup kenal dia. Maryoto mempunyai dua orang anak yang sudah remaja. Isterinya memang hanya sebagai ibu rumah tangga.

Saya masih ingat betul kejadian setahun yang lalu. ketika Maryoto pernah cerita, isterinya di bawa ke psikiater. Katanya isterinya cemburu. Isterinya mempunyai pemikiran kalau Maryoto punya selingkuhan. iya, itu dulu. setahun yang lalu. Awalnya karena bercanda. Ketika itu Maryoto mendapat kaos dari customer kami dan dipakai di rumah, ketika ditanya isterinya tentang kaos itu dapat darimana, ceplos Maryoto menjawab:” dari pacarku” kata Maryoto begitu. Itulah awalnya isteri Maryoto jadi sering kumat dan tidak terkendalikan pikirannya. Dia tidak bisa tidur dan kalau pikirannya sudah kacau, tidak segan-segan memukul Maryoto dan terjadilah baku hantam suami isteri. Itulah pengakuan Maryoto.Dan hari ini, kenyataan itu benar. Maryoto berselingkuh dengan wanita lain. Wanita yang sudah bersuami. Yang dikenalnya lewat facebook. Ahhh...

“Berapa umurmu sekarang” kata saya.
“ Empat puluh tahun bu” jawab Maryoto.
“ Mungkin kamu sedang kena virus puber kedua” kata saya menebak
“ Apa iya ya bu? Sepanjang hari, sepanjang malam wanita itu hadir dalam pikiran saya” lanjut Maryoto
“ Banyaklah berdoa. Ingat anak-anakmu. Ingat isterimu sudah pernah sakit kan. Bagaimana kalau isterimu tahu tentang hal ini, lalu sakit semakin parah lagi, dan kenyataan pahitnya isterimu meninggal, bagaimana dengan anak-anakmu? Okelah kamu bias kawin lagi. Tapi anakmu, kasihan mereka”. Kata saya pelan.

“ Wanita itu mungkin kamu kenal hanya luarnya saja. Mungkin Cuma 10% kekosongan hatimu diisi olehnya. Tapi masih ada 90% tempat isterimu. Jangan karena wanita itu bersepatu tinggi sedangkan isterimua hanya bersendal di rumah, kamu langsung berpaling muka kepada wanita itu?. Cobalah merenung. Banyak berdoa ya. Saya turut mendoakan kamu” lanjut saya panjang lebar.

Entah kekuatan apa yang membuat saya bisa berkata-kata seperti itu. Saya yang masih bau kencur begini, menasihati Maryoto yang umurnya satu sepertiga umur saya. 

Maryoto tercenung. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Apakah dia sedang berkhayal tentang wanita itu, ataukah pikirannya ke rumah, kepada isterinya yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga mereka. Yang selalu setia membuatkan kopi untuk Maryoto setiap pagi. 

Entahlah.

“ Okelah, saya pamit dulu ya. Terimakasih karena sudah mau bercerita pada saya”. Lalu saya pamit pulang. Saya keluar dari ruangan Maryoto dan langsung pulang.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya merenungkan pembicaraan saya barusan dengan Maryoto. Sambil memandangi kendaraan berlalu lalang lewat kaca bis, pikiran saya menerawang kemana-mana.

Bagaimana nanti jika isteri Maryoto tahu jika suaminya selingkuh? Bagaimana perasaan Maryoto jika isterinya yang selingkuh? Ahhhh… otak saya capek memikirkannya. Dan tak terasa saya ketiduran bersama khayalan saya di dalam bis ini. Tiba-tiba kernet bis membangunkan saya, bahwa tujuan saya sudah sampai.

“Ahhh… Maryoto, Maryoto. Semoga kamu bertobat. Kasihan isterimu”. Gumam saya sembari turun dari bis.

4 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

begitulah dunia maya. harus hati2 banget. padahal belum tentu itu bener2 cinta ya. wong kenalnya gitu2 aja kan.

Rika Willy said...

betul mbak. hanya ketertarikan sesaat. tapi melukai hati orang lain
yang mencintai kita

Lyliana Thia said...

Duh.. Padahal yg jomblo cari pasangan di dunia maya aja belum tentu, apalagi ini yg jelas2 salah ya.. Hmm.. Semoga rumah tangga qta semua dijauhkan dari cobaan semacam itu ya mbak Rika.. Amin..

Rika Willy said...

@Lyliana Thia,

hehehehehe... begitulah mbak