May 26, 2011
May 25, 2011
Ojek saya menabrak malaikat
Ceritanya tadi pagi saya berangkat mau ke kantor, dari rumah naik ojek sampai pintu tol. Biasanya sih nebeng sama misua. tapi tadi pagi misua blom beres sedangkan saya harus mengejar bus yang berangkat sebelum jam tujuh. Lalu saya naik ojek yang mangkal di gerbang depan komplek. Sepertinya ini kedua kali saya dibonceng bapak ojek yang ini. Pas di depan RSIA Annisa hampir nabrak tukang parkir, tapi bapak ojeknya cengengesan saja dan si tukang parkir tidak komentar. Nah, lima puluh meter dari RSIA Annisa itulah kejadiannya. Ojek yang saya tumpangi menabrak motor yang mau putar balik. Jadilah gedebukkkkk... motornya jatuh, saya pun jatuh di aspal. sambil mengaduh kesakitan, tau nggak yang pertama saya liat? COOLER BAG!!!!! tangan saya langsung sigap membuka kancing tas cooler bag saya, memastikan botol-botol yang akan saya pakai menyimpan ASIP ntar di kantor tidak pecah. hahahahahhahaha... demi cinta mama untukmu Bev, lautan luas kusebrangi, jatuh dari motorpun botol ASIP tetap nomor satu.
Setelah yakin bahwa botol - botol itu tidak pecah, barulah saya mengecek lutut saya yang sakit. ternyata lecet karena lutut saya mencium aspal. Trus datanglah pak polisi. Saya sudah berdiri dibantuin abang-abang tukang parkir cepek. si bapak ojek disuruh polisi untuk minggirin motornya. Saya terus aja jalan karena gerbang tol tinggal seratus meter di depan saya. Orang-orang yang lagi nungguin tumpangan omprengan cuma menatap saya iba. aihhhhh malu juga sih. Dan tak terasa air mata menetes sedih gituh... ealaaaahhhhh cengeng ya bowww... Dan selama perjalanan menuju kantor entah kenapa airmata saya tidak mau berhenti. dan parahnya di tas saya tidak ada tissue maupun selembar sapu tangan. Jadilah airmata saya di lap dengan telapak tangan.
moral cerita:
hati-hatilah memilih ojek
jangan lupa bawa tissue/saputangan kemanapun anda pergi
berangkat lebih pagi lebih baik daripada buru-buru malah accident
oiya... saya lupa tidak bayar ongkos ojeknya. gimana tuh???
GBU
Rika
Setelah yakin bahwa botol - botol itu tidak pecah, barulah saya mengecek lutut saya yang sakit. ternyata lecet karena lutut saya mencium aspal. Trus datanglah pak polisi. Saya sudah berdiri dibantuin abang-abang tukang parkir cepek. si bapak ojek disuruh polisi untuk minggirin motornya. Saya terus aja jalan karena gerbang tol tinggal seratus meter di depan saya. Orang-orang yang lagi nungguin tumpangan omprengan cuma menatap saya iba. aihhhhh malu juga sih. Dan tak terasa air mata menetes sedih gituh... ealaaaahhhhh cengeng ya bowww... Dan selama perjalanan menuju kantor entah kenapa airmata saya tidak mau berhenti. dan parahnya di tas saya tidak ada tissue maupun selembar sapu tangan. Jadilah airmata saya di lap dengan telapak tangan.
moral cerita:
hati-hatilah memilih ojek
jangan lupa bawa tissue/saputangan kemanapun anda pergi
berangkat lebih pagi lebih baik daripada buru-buru malah accident
oiya... saya lupa tidak bayar ongkos ojeknya. gimana tuh???
GBU
Rika
May 24, 2011
May 10, 2011
almost tepar
iyaaaaakkk saya so busy busy banget. basi euyyy alasan itu mulu. iya pak/bu maafken.
Sejak pindahan rumah dua minggu yang lalu rasanya jam biologis saya pun dipaksa untuk berubah. Yang tadinya bangun pagi bisa jam enam, sekarang harus tengah lima, siapin makanan si Bev trus mandi tengah tujuh harus berangkat. Trus sore hari jam lima lewat sedikit sudah harus keluar kantor mengejar bus. capekkk euyyy..
Pas minggunya pindahan itu pulak saya harus kerja keras untuk mengejar tutup point di bisnis saya jeli gamat ini.
Hasil jerih payah saya menghasilkan buah. saya berhasil menjual paket khusus new member 14 paket. Dan point saya tercapai. bonus saya bulan April naik sedikit mendekati enam jutaan. Puji Tuhan bonus saya bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari, bayar kontrakan de el el. Gaji saya bisa utuh ditabung. semoga lancar terus. saya ingin ikut tour gratis dari Luxor ini.
Selamat juga buat downline saya Nunuk di Surabaya sudah mencapai level manager dalam 3 bulan. Bonusnya sejutaan, karena pencapaian managernya adalah manager point akumulasi bukan manager qualified. mudah-mudahan bulan ini tercapai manager qualified ya mbak Nunuk. aminnnnnn...
Setelah itu, usaha bisnis pakaian dengan adik perempuan saya Atik mulai berjalan. Diawali dengan modal kecillll mudah-mudahan terus berjalan.Entah kenapa saya selalu menyarankan dia untuk berbisnis saja daripada pergi melamar dan cari pekerjaan. Secara zaman sekarang ini pengangguran dimana-mana, lapangan pekerjaan sedikit. Jadi sebisa mungkin kita mencari celah untuk membuat lapangan pekerjaan. Jika blom bisa mempekerjakan orang lain paling tidak mempekerjakan diri sendiri, mudah-mudahan ke depannya bisa mempekerjakan orang lain sebanyak-banyaknya. doain ya.
Itulah makanya kenapa saya bilang hampir tepar, sejak hari minggu pagi saya merasa tidak enak badan. kepala saya berat, tapi tetap semangat hunting pakaian. sampai saat ini masih berasa agak flu tapi langsung digeber dengan vitamin dan minum banyak. semoga tidak sampai sakit lagi.
Itu saja dulu reportnya hari ini, saya mo menulis nota-nota dulu. sudah cukup banyak berserakan di meja saya.
Luv,
Rika
Sejak pindahan rumah dua minggu yang lalu rasanya jam biologis saya pun dipaksa untuk berubah. Yang tadinya bangun pagi bisa jam enam, sekarang harus tengah lima, siapin makanan si Bev trus mandi tengah tujuh harus berangkat. Trus sore hari jam lima lewat sedikit sudah harus keluar kantor mengejar bus. capekkk euyyy..
Pas minggunya pindahan itu pulak saya harus kerja keras untuk mengejar tutup point di bisnis saya jeli gamat ini.
Hasil jerih payah saya menghasilkan buah. saya berhasil menjual paket khusus new member 14 paket. Dan point saya tercapai. bonus saya bulan April naik sedikit mendekati enam jutaan. Puji Tuhan bonus saya bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari, bayar kontrakan de el el. Gaji saya bisa utuh ditabung. semoga lancar terus. saya ingin ikut tour gratis dari Luxor ini.
Selamat juga buat downline saya Nunuk di Surabaya sudah mencapai level manager dalam 3 bulan. Bonusnya sejutaan, karena pencapaian managernya adalah manager point akumulasi bukan manager qualified. mudah-mudahan bulan ini tercapai manager qualified ya mbak Nunuk. aminnnnnn...
Setelah itu, usaha bisnis pakaian dengan adik perempuan saya Atik mulai berjalan. Diawali dengan modal kecillll mudah-mudahan terus berjalan.Entah kenapa saya selalu menyarankan dia untuk berbisnis saja daripada pergi melamar dan cari pekerjaan. Secara zaman sekarang ini pengangguran dimana-mana, lapangan pekerjaan sedikit. Jadi sebisa mungkin kita mencari celah untuk membuat lapangan pekerjaan. Jika blom bisa mempekerjakan orang lain paling tidak mempekerjakan diri sendiri, mudah-mudahan ke depannya bisa mempekerjakan orang lain sebanyak-banyaknya. doain ya.
Itulah makanya kenapa saya bilang hampir tepar, sejak hari minggu pagi saya merasa tidak enak badan. kepala saya berat, tapi tetap semangat hunting pakaian. sampai saat ini masih berasa agak flu tapi langsung digeber dengan vitamin dan minum banyak. semoga tidak sampai sakit lagi.
Itu saja dulu reportnya hari ini, saya mo menulis nota-nota dulu. sudah cukup banyak berserakan di meja saya.
Luv,
Rika
May 6, 2011
Bev 9 month
Tidak terasa Bev sudah 9 bulan aja. Selamat Ulbul again ya Princess. Bev semakin sehat dan Pinter.
Record tumbuh kembangnya Bev diusianya 9 bulan cukup bagus. Berat badannya 8 kg. Masih digaris normal. Badannya kecil berisi dan lincah. Sudah pede berdiri tanpa pegangan dua detik. Giginya sudah empat. Tanda-tandanya mau numbuh lagi dua di bagian atas. Sudah bisa ngajak main ciluk baaa… caranya dia tutup mukanya pakai kain, lalu dibuka. Dia senang banget. Sudah bisa berontak kalau dia tidak suka, dengan cara berteriak keras. Suara melengking tapi lebih ke suara alto Merangkaknya perutnya sudah diangkat, jadi klo selama ini merangkak perut diseret, sekarang sudah bisa merangkak dengan kedua tangan dan kakinya. Cepat banget turun dari tempat tidur. Suka banget liat cicak.
Kebiasaan barunya setelah pindah ke rumah baru, suka liat ayam dan menirukan cara tantenya memanggil ayam. Jika manggil ayam dengan krrrrrrrr…Bev menirukannya dengan bbrrrrrr…hihihihi.
Makannya sejauh ini cukup lancar. Belum pernah GTM serius. MPASI nya sudah mulai belajar makan nasi tim. Sampai umur Sembilan bulan ini makananya sudah cukup bervariasi. Tapi belum dikenalkan dengan daging baru hanya ikan.
Beberapa bahan makanan yang sudah diperkenalkan:
Serealia: Beras Merah, berah putih, oatmeal
Sayuran: Buncis, chai sin, Bayam, kangkung, kembang kol, wortel, kentang, labu parang, labu siam, radish, bit.
Ikan: Ikan Tuna, Ikan Gindara
Kacang-kacangan: Tahu, tempe, kacang ijo, kacang merah segar.
Mentega buat tumis: Unsalted butter
Kuning telur ayam kampung
Satu kali dikasi yoghut yang plain, tapi kayaknya belum terlalu penting.
semoga Bev sehat terus ya nak, tambah pinter.
big hug,
mama papa
Record tumbuh kembangnya Bev diusianya 9 bulan cukup bagus. Berat badannya 8 kg. Masih digaris normal. Badannya kecil berisi dan lincah. Sudah pede berdiri tanpa pegangan dua detik. Giginya sudah empat. Tanda-tandanya mau numbuh lagi dua di bagian atas. Sudah bisa ngajak main ciluk baaa… caranya dia tutup mukanya pakai kain, lalu dibuka. Dia senang banget. Sudah bisa berontak kalau dia tidak suka, dengan cara berteriak keras. Suara melengking tapi lebih ke suara alto Merangkaknya perutnya sudah diangkat, jadi klo selama ini merangkak perut diseret, sekarang sudah bisa merangkak dengan kedua tangan dan kakinya. Cepat banget turun dari tempat tidur. Suka banget liat cicak.
Kebiasaan barunya setelah pindah ke rumah baru, suka liat ayam dan menirukan cara tantenya memanggil ayam. Jika manggil ayam dengan krrrrrrrr…Bev menirukannya dengan bbrrrrrr…hihihihi.
Makannya sejauh ini cukup lancar. Belum pernah GTM serius. MPASI nya sudah mulai belajar makan nasi tim. Sampai umur Sembilan bulan ini makananya sudah cukup bervariasi. Tapi belum dikenalkan dengan daging baru hanya ikan.
Beberapa bahan makanan yang sudah diperkenalkan:
Serealia: Beras Merah, berah putih, oatmeal
Sayuran: Buncis, chai sin, Bayam, kangkung, kembang kol, wortel, kentang, labu parang, labu siam, radish, bit.
Ikan: Ikan Tuna, Ikan Gindara
Kacang-kacangan: Tahu, tempe, kacang ijo, kacang merah segar.
Mentega buat tumis: Unsalted butter
Kuning telur ayam kampung
Satu kali dikasi yoghut yang plain, tapi kayaknya belum terlalu penting.
semoga Bev sehat terus ya nak, tambah pinter.
big hug,
mama papa
Apr 26, 2011
Apr 25, 2011
Liburan Kemana Aja Bu?
Horeeee… libur panjang, long wikennn… kemana bu? Tanggung ya wikennya tengah bulan. Pos doku lagi pas banget. Itulah sekilas pembicaraan menyambut wiken kemarin. Tapi buat saya wiken selalu dinanti. Apalagi klo bukan mau bermain sepuasnya dengan my little princess si Bev. Ya, saya bisa nyiapin makannya dengan santai, nyuapin dan memandikannya tanpa terburu-buru mengejar waktu seperti hari-hari biasa.
Hari Jumat kemarin akhirnya kesampaian lah hasrat saya untuk ubek senin. Kegiatan yang sudah luaaaammmmaaa banget tidak saya lakukan. Terakhir saya berkunjung ketika saya hamil Bev 5 bulan. Setelah itu saya hanya bisa membayangkan serunya ubek senen. Bila saya menghayalkannya rasanya pengen terbang ke sana. Tapi apalah daya saya harus lebih mementingkan kebutuhan si Princess dan tidak mungkin saya membawanya berpetualang ke sana. Karena udaranya sangat pengap dan puanass poll.
Seminggu sebelumnya saya sudah sampaikan niat ke papa Bev bahwa saya sangat pengen luar biasa untuk ubek senen. Papa Bev kasi respon antara iya dan tidak. Malam jumat saya mulai buka pembicaraan tentang sepatunya yang udah lusuh karena tiap hari sering kena hujan. Ada alas an buat saya untuk mengarahkan pembicaraan ke tujuan utama saya yaitu jelajah pasar SENEN!!.
Saya:” say, besok jadi ya kita ke senen.
Papa Bev:” Hmmm… sambil mata tetep ke TV
Saya diamin…
Pas udah mau tidur saya ajak lagi.
Saya: Say, Sepatu kamu kan udah waktunya diganti tuh. Besok kita ke senen yuk. Kita beli sepatu di Matahari Atrium.
Papa Bev:” liat besok deh. Sambil males-malesan munggungi saya. (sabarrrrr)
Pagi-pagi seperti biasa klo libur bangunnya juga agak siangan hehehehe… saya siapin makan Bev, papanya Bev nyuci. Setelah nyuci papa Bev ngobrol ke tetangga kontrakan (rumah Denhot) di sana ada Charles, ka Imel dan Denhot. Setelah Bev saya tidurkan, saya mampir ke sana. Mulai lagi saya lancarkan aksi rayu.
Saya:” Say, jadi kan. Yukkkk.. udah tengah dua belas nih.
Papa Bev:” hmmmm…. Ntr lagi deh. (sambil nerusin ngobrol dengan anak-anak)
Saya:” Ayolah say … (sambil pasang muka memelas)
Papa Bev:” (sambil melirik ke saya) Ayolah..
Dalam hati saya berteriak kegirangan dong. Hehehehe
Lalu siap-siap, ganti baju.. eh si papa sempatnya jemurin duit yang kena basah di cucian. Ya sudah saya tungguin sambil kasi makan siang Bev dengan menu pisang.
Berangkatlah pasukan bondrek saya, Bev dan si papa ke senen dengan busway. Lumayan, jalanan Jakarta tidak terlalu macet karena long wiken ditambah lagi jumat agung. Tiba di senen tengah dua siang. Sesampainya ditujuan, Bev dan si papa nungguin di parkiran. Dan saya dengan semangat 45 bergegas menuju sasaran. Iyaaaa….. ubek senen, Ayem kaming... sayapun ikut tenggalam dengan orang banyak yang bak mencari harta karun. Senen memang tidaK ada matinya. Selalu rame.
Saya cuma berfokus pada dua lapak baju anak. Saya tidak sempat keliling sambil lirik sana sini. Pikiran saya tetap terbagi ke si Bev dan si papa yang nungguin di parkiran. Takutnya Bevnya nangis atau haus. Setelah dapat yang dicari saya buru-buru keluar dan menemui Bev dan si papa. Ternyata Bev baik-baik saja, tidak menangis. Dan si papa juga lagi ngobrol dengan ada satu bapak-bapak yang nungguin juga di parkiran sambil gendong-gendong bayinya yang masih berumur 3 bulan.
Lalu kami bergegas ke Atrium. Lumayanlah pendinginan, setelah tadi berpacu dengan waktu di dalam pasar seken senen. Hehehhee. Sambil ngadem, kita nyari sepatu di matahari. Si papa beli 2 pasang sepatu, dan 1 pasang sepatu model crocs (baca: kerok). Dan saya dapat 1 pasang sepatu. Setelah itu kita nongkrong dan di Es Teller 77. Trus pulangggg… sampai rumah sudah sore hamper malam.
Hari Sabtu, kita ikut kebaktian sabat di Gereja Advent Bintaro. Di gedung yang baru di sector 12. Kita di undang ke sana sama mama Eunice (kakak sepupuku), Karena Eunice di baptis. Sudah lama banget tidak ke sana. Di sana ketemu dengan sodara-sodara yang lain. Mampir dulu ke rumah Eunice akhirnya kita pulang malam. Sampai rumah udah jam Sembilan malam. Padahal kita rencananya hari minggu mau pindahan dan belum packing barang sama sekali.
Minggu pagi, setelah belanja sambil nyari-nyari kardua di warung Tanya sana sini kagak ada yang jual. Bingung barang mau ditaruh dimana. Si oppung doli (papa mertua) pun ternyata sudah mencarikan mobil untuk mengangkut barang buat pindahan. Sedangkan kami belum beres packing. Akhirnya kita angkut dengan tempat seadanya. Rumah Cuma sepetak, tapi ternyata isinya banyak banget printilannya. Setelah diangkut semua, serah terima kunci. Kami tiba di rumah kontrakan baru., iya kami memang kontraktor sodara sadara. Hehehhee… tapi walo kontraktor, naik level kok. Yang tadinya bobo pake kipas sekarang pake AC. Jiahhhhh…. Hahahahahahaha..
Semoga di rumah baru (kontrakan) tetap dilindungi Tuhan, rejeki berlimpah dan bisa tetap menjadi saluran berkat bagi orang lain. Doain ya temans… amin
Hari Jumat kemarin akhirnya kesampaian lah hasrat saya untuk ubek senin. Kegiatan yang sudah luaaaammmmaaa banget tidak saya lakukan. Terakhir saya berkunjung ketika saya hamil Bev 5 bulan. Setelah itu saya hanya bisa membayangkan serunya ubek senen. Bila saya menghayalkannya rasanya pengen terbang ke sana. Tapi apalah daya saya harus lebih mementingkan kebutuhan si Princess dan tidak mungkin saya membawanya berpetualang ke sana. Karena udaranya sangat pengap dan puanass poll.
Seminggu sebelumnya saya sudah sampaikan niat ke papa Bev bahwa saya sangat pengen luar biasa untuk ubek senen. Papa Bev kasi respon antara iya dan tidak. Malam jumat saya mulai buka pembicaraan tentang sepatunya yang udah lusuh karena tiap hari sering kena hujan. Ada alas an buat saya untuk mengarahkan pembicaraan ke tujuan utama saya yaitu jelajah pasar SENEN!!.
Saya:” say, besok jadi ya kita ke senen.
Papa Bev:” Hmmm… sambil mata tetep ke TV
Saya diamin…
Pas udah mau tidur saya ajak lagi.
Saya: Say, Sepatu kamu kan udah waktunya diganti tuh. Besok kita ke senen yuk. Kita beli sepatu di Matahari Atrium.
Papa Bev:” liat besok deh. Sambil males-malesan munggungi saya. (sabarrrrr)
Pagi-pagi seperti biasa klo libur bangunnya juga agak siangan hehehehe… saya siapin makan Bev, papanya Bev nyuci. Setelah nyuci papa Bev ngobrol ke tetangga kontrakan (rumah Denhot) di sana ada Charles, ka Imel dan Denhot. Setelah Bev saya tidurkan, saya mampir ke sana. Mulai lagi saya lancarkan aksi rayu.
Saya:” Say, jadi kan. Yukkkk.. udah tengah dua belas nih.
Papa Bev:” hmmmm…. Ntr lagi deh. (sambil nerusin ngobrol dengan anak-anak)
Saya:” Ayolah say … (sambil pasang muka memelas)
Papa Bev:” (sambil melirik ke saya) Ayolah..
Dalam hati saya berteriak kegirangan dong. Hehehehe
Lalu siap-siap, ganti baju.. eh si papa sempatnya jemurin duit yang kena basah di cucian. Ya sudah saya tungguin sambil kasi makan siang Bev dengan menu pisang.
Berangkatlah pasukan bondrek saya, Bev dan si papa ke senen dengan busway. Lumayan, jalanan Jakarta tidak terlalu macet karena long wiken ditambah lagi jumat agung. Tiba di senen tengah dua siang. Sesampainya ditujuan, Bev dan si papa nungguin di parkiran. Dan saya dengan semangat 45 bergegas menuju sasaran. Iyaaaa….. ubek senen, Ayem kaming... sayapun ikut tenggalam dengan orang banyak yang bak mencari harta karun. Senen memang tidaK ada matinya. Selalu rame.
Saya cuma berfokus pada dua lapak baju anak. Saya tidak sempat keliling sambil lirik sana sini. Pikiran saya tetap terbagi ke si Bev dan si papa yang nungguin di parkiran. Takutnya Bevnya nangis atau haus. Setelah dapat yang dicari saya buru-buru keluar dan menemui Bev dan si papa. Ternyata Bev baik-baik saja, tidak menangis. Dan si papa juga lagi ngobrol dengan ada satu bapak-bapak yang nungguin juga di parkiran sambil gendong-gendong bayinya yang masih berumur 3 bulan.
Lalu kami bergegas ke Atrium. Lumayanlah pendinginan, setelah tadi berpacu dengan waktu di dalam pasar seken senen. Hehehhee. Sambil ngadem, kita nyari sepatu di matahari. Si papa beli 2 pasang sepatu, dan 1 pasang sepatu model crocs (baca: kerok). Dan saya dapat 1 pasang sepatu. Setelah itu kita nongkrong dan di Es Teller 77. Trus pulangggg… sampai rumah sudah sore hamper malam.
Hari Sabtu, kita ikut kebaktian sabat di Gereja Advent Bintaro. Di gedung yang baru di sector 12. Kita di undang ke sana sama mama Eunice (kakak sepupuku), Karena Eunice di baptis. Sudah lama banget tidak ke sana. Di sana ketemu dengan sodara-sodara yang lain. Mampir dulu ke rumah Eunice akhirnya kita pulang malam. Sampai rumah udah jam Sembilan malam. Padahal kita rencananya hari minggu mau pindahan dan belum packing barang sama sekali.
Minggu pagi, setelah belanja sambil nyari-nyari kardua di warung Tanya sana sini kagak ada yang jual. Bingung barang mau ditaruh dimana. Si oppung doli (papa mertua) pun ternyata sudah mencarikan mobil untuk mengangkut barang buat pindahan. Sedangkan kami belum beres packing. Akhirnya kita angkut dengan tempat seadanya. Rumah Cuma sepetak, tapi ternyata isinya banyak banget printilannya. Setelah diangkut semua, serah terima kunci. Kami tiba di rumah kontrakan baru., iya kami memang kontraktor sodara sadara. Hehehhee… tapi walo kontraktor, naik level kok. Yang tadinya bobo pake kipas sekarang pake AC. Jiahhhhh…. Hahahahahahaha..
Semoga di rumah baru (kontrakan) tetap dilindungi Tuhan, rejeki berlimpah dan bisa tetap menjadi saluran berkat bagi orang lain. Doain ya temans… amin
Apr 21, 2011
Koin Cinta Untuk Sausan
Pertama kali mengetahui tentang Sausan dari blognya si cantik Baby Dija. Kemudian saya dapat informasi lengkap dari blognya kak Mila. Iyahh… Sausan… miris sekali melihatnya. Masa kanak-kanaknya terenggut oleh kanker mata (retinablastoma). Dari blog mbak Mila, saya dapat nomor kontak pak Arief ayahnya Sausan. Saya mengontak beliau menanyakan kondisi Sausan. Menurut penuturan pak Arief kondisinya sudah semakin membaik. Dan saat ini di rawat di rumah dengan pengobatan alternative herbal dan rawat jalan ke RSCM.
Saya tergerak hati untuk memberikan sumbangan. Akhirnya saya dan teman-teman sesama online shop di multiply membuat posko Koin Cinta Untuk Sausan. Walaupun kami hanya kenal lewat dunia maya, tapi puji Tuhan banyak yang memberikan simpati, sumbangan dan doa. Hari ini uangnya akan ditransfer ke rekening pak Arief, Jumlahnya tidak seberapa, tapi saya yakin dapat membantu meringankan beban keluarga Sausan. Tapi saya yakin dapat membantu meringankan beban keluarga Sausan. Biarlah Tuhan memberikan kesembuhan untuk Sausan. Biarlah diberikan ketabahan kepada keluarga pak Arief untuk menerima cobaan ini. Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi yang dapat kita pikul.
Saya tergerak hati untuk memberikan sumbangan. Akhirnya saya dan teman-teman sesama online shop di multiply membuat posko Koin Cinta Untuk Sausan. Walaupun kami hanya kenal lewat dunia maya, tapi puji Tuhan banyak yang memberikan simpati, sumbangan dan doa. Hari ini uangnya akan ditransfer ke rekening pak Arief, Jumlahnya tidak seberapa, tapi saya yakin dapat membantu meringankan beban keluarga Sausan. Tapi saya yakin dapat membantu meringankan beban keluarga Sausan. Biarlah Tuhan memberikan kesembuhan untuk Sausan. Biarlah diberikan ketabahan kepada keluarga pak Arief untuk menerima cobaan ini. Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi yang dapat kita pikul.
Apr 19, 2011
10 Tips Pernikahan agar Awet dan Bahagia
1. Jangan anda marah pada waktu yang sama ; karena kasian sama tetangga ....
2. Jangan berteriak pada waktu yang sama ; kecuali ada maling atau kebakaran .....
3. Kalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang ; Kan ada pepatah: " yang waras ngalah"
4. Tegurlah pasangan Anda dengan Kasih ; Kalo perlu negurnya sambil " kasih " cek atau berlian (Hmmm...mauu...)
5. Lupakanlah dan Jangan ungkit-ungkit lagi kesalahan masa lalu ; karena yang perlu diingat tuh: masa2 romantis apalagi masa2 pacaran . Hmmmm...:*
6. Boleh lupakan yang lain, tetapi jangan lupakan pasangan Anda ; Tapi jangan lupa mandi, apalagi sampe lupa kasih uang bulanan .
7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam ; Kecuali kalau anda bisa menahan matahari untuk tidak terbenam .
8. Sering-seringlah memberikan pujian kepada pasangan Anda ;. Kalau perlu dinyanyiin lagu kesayangan nya walaupun dengan suara yang fals .
9. Kalau anda merasa bersalah , bersedialah mengakui kesalahan dan meminta ma’af ; Yah, paling2 ditempeleng atau di'ngambek'in. .. He he .
10. Dalam pertengkaran , yang paling keras marahnya dan paling banyak bicaranya dia-lah yang salah ; Biasanya sih untuk nutupin kesalahan tuh....... Ha ha ha .
2. Jangan berteriak pada waktu yang sama ; kecuali ada maling atau kebakaran .....
3. Kalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang ; Kan ada pepatah: " yang waras ngalah"
4. Tegurlah pasangan Anda dengan Kasih ; Kalo perlu negurnya sambil " kasih " cek atau berlian (Hmmm...mauu...)
5. Lupakanlah dan Jangan ungkit-ungkit lagi kesalahan masa lalu ; karena yang perlu diingat tuh: masa2 romantis apalagi masa2 pacaran . Hmmmm...:*
6. Boleh lupakan yang lain, tetapi jangan lupakan pasangan Anda ; Tapi jangan lupa mandi, apalagi sampe lupa kasih uang bulanan .
7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam ; Kecuali kalau anda bisa menahan matahari untuk tidak terbenam .
8. Sering-seringlah memberikan pujian kepada pasangan Anda ;. Kalau perlu dinyanyiin lagu kesayangan nya walaupun dengan suara yang fals .
9. Kalau anda merasa bersalah , bersedialah mengakui kesalahan dan meminta ma’af ; Yah, paling2 ditempeleng atau di'ngambek'in. .. He he .
10. Dalam pertengkaran , yang paling keras marahnya dan paling banyak bicaranya dia-lah yang salah ; Biasanya sih untuk nutupin kesalahan tuh....... Ha ha ha .
Apr 13, 2011
S.n.o.w.b.a.y

Akhirnya jadi juga ke snowbay. Snowbay oh snowbay… selama ini Cuma lewat-lewat aja tapi belum pernah masuk hehehehe… Ke snowbay tanpa rencana jauh-jauh hari. Manfaatin diskon masuk dengan debit Mandiri diskon 40%. Lumayan kan bawa anggota keluarga.

Kita tiba di sana sudah setengah tiga. Itupun matahari masih puanaasssss banget dan Bev masih nyenyak di gendongan. Papa Bev, sit ante Atik dan tulang Bev sudah jelajah semua mainan. Mama Bev bertugas jagain barang sembari menunggu si cantik bangun.
Setelah agak teduh mataharinya, aku bawa Bev masuk air. Wowwww.. senangnya dia. Tepuk-tepuk air sambil teriak kegirangan. Tidak sedikitpun menunjukkan takut air. Bev… Bev… Walau bibirnya sudah membiru karena kedinginan tapi tetep aja kegirangan. Sampai-sampai anak-anak yang umurnya sudah dua tahunan dibawa mama-mamanya ke dekat Bev. Karena anaknya takut masuk air. Ehhhh… kenalan deh Bev sama kakak-kakak itu. Tidak lupa, di sela-sela bermain air keluar dulu buat nen dua kali bow.. hehehe..

Setelah puas bermain air Bev kubawa keluar. Bibirnya udah biru banget dan kulitnya belang hehehehe… Dia diam karena kedinginan. Pas dibawa ke kamar mandi untuk bersih-bersih, Bev peluk aku erat karena air showernya air dingin… huaaaa…. Bev blom pernah mandi air dingin soalnya. Klo dirumah mandi di ember bak pake air hangat. Udah selesai bersih-bersih Cuma dibungkus handuk digendong papanya. trus emaknya buru-buru bersih-bersih dulu baru deh Bev dipakein baju. Soalnya semua basah.


Setelah itu Bev nen dan teler. Tidur pulas banget. Puaslah liat Bev kegirangan begitu. Lumayan buat refreshing ya.
Apr 6, 2011
Bev 8 month

Hari ini Bev tepat berusia 8 bulan BB 7,8 kg. Selamat ulang bulan ya cantik, terus bertumbuh dan sehat selalu. Di usianya yang ke delapan bulan ini Bev sudah semakin pintar. Klo nangis kenceng banget. Sudah bisa berdiri sendiri sambil berpegangan di perabot. Sudah bisa turun sendiri dari kasur, walo kadang nggak sabar jadi langsung terjun bebas. Giginya baru dua, satu lagi mau tumbuh di bagian atas. Makannya kadang males-malesan mungkin karena gusinya bengkak dan gatal karena mau tumbuh gigi jadi bawaanya gitu. Trus klo nenen sekarang maunya sambil duduk pelukan emaknya.
Udah nggak mau nenen sambil tiduran dipangkuan kayak anak bayi. Sudah mengenal orang, klo ditinggal emak/bapaknya atau siapa aja yang dikenalnya pasti nangis. Makin sering teriak ma…daaa…pa….. klo mandi gak bisa diam, pasti manjat ember. Di mobil juga nggak bisa diam, suka manjat hodohhhhh…. Sehat terus ya Bev… papa mama lov Bev lah
Apr 1, 2011
Mar 31, 2011
A Baby Girl Is ...

A baby girl is...
eyes that mesmerize,
drawing all time, energy and focus
to her unique attractions.
Smiles and giggles,
bringing more thrills,
pleasure and satisfaction
than any amount of money can buy.
Sweet, soft,
feminine baby fragrance...
inhaled happiness.
Growing, changing,
in your eyes appearing
more beautiful every day,
your baby girl is all that,
and so much more.
By Joanna Fuchs
F.A.M.I.L.Y

Mutiara kehidupan adalah keluarga. Setiap orang dilahirkan dan dibentuk dalam sebuah keluarga. Entah ia memang dilahirkan sebagai yatim dan atau piatu, tetapi pasti saat dalam pengasuhan ia tetap memiliki sebuah keluarga, mungkin Panti Asuhan, mungkin orangtua angkat, dsb. Keluarga bisa diartikan saat dalam sebuah komunitas kita tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh dan menjadi berkat bagi orang lain. Keluarga tidak selalu terdiri dari ayah, ibu dan anak tetapi lebih dari sekedar hubungan orangtua dan anak. Keluarga adalah tempat persemaian benih cinta.

Tak ada seorang pun yang bisa meminta untuk dilahirkan dalam sebuah keluarga sebagaimana yang diinginkannya. Dengan demikian, Tuhan mau mengajarkan kepada kita bahwa hidup penuh cinta berarti menerima sebagaimana adanya dengan kondisi orang-orang di sekitar kita apa adanya, dengan sifat dan keadaannya, dengan pengasuhan dan peristiwa hidup, dengan cinta dan juga ketulusan.

Tiada yang paling indah di dunia ini, selain saya menyadari bahwa saya dicintai oleh keluarga. Saat saya tak punya pilihan dan tak berharga, keluarga adalah komunitas yang mengakui eksistensi hidup saya. Keluarga mengajarkan saya untuk tak mudah menyerah terhadap keadaan yang terjadi karena keadaan adalah kondisi yang tercipta, sementara Iman, Cinta dan Harapan adalah yang menguatkan hati untuk tetap hidup meski keadaan sejatinya tak tertolong. Kekuatan cinta memang tiada taranya, yang memampukan setiap bahasa di dunia ini menjadi indah didengar. Kekuatan cinta memampukan saya untuk merasakan makna sebuah keluarga.
Mar 30, 2011
Kisah Niccolo Paganini dan Biolanya

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yg terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yg memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh, Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus.
Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya.
Kejadian yg sangat mengejutkan senar biolanya yg lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tapi dia tetap main.
Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri & berteriak, “Hebat, Hebat…”
Setelah tepuk tangan riuh memujanya,
Paganini menyuruh mereka untuk duduk.
Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar.
Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.
Dengan mata berbinar dia berteriak,
“Paganini dengan satu senar”
Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya.
Penonton sangat terkejut & kagum pada kejadian ini.
PESAN MORAL,
Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan & semua hal yg tidak baik.
Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yg putus & segala sesuatu yg kita tidak dapat ubah.
Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yg putus dalam hidup Anda?
Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi?
Jika demikian, saya ingin menganjurkan JANGAN MELIHAT KE BELAKANG,
MAJULAH TERUS,
mainkan senar satu-satunya itu,
mungkinkanlah itu dengan indahnya.
TUHAN akan menolong Anda…
Mar 29, 2011
Kedua kalinya
Aku baru tiba di kantor. Baru saja meletakkan tas dan duduk sembari menyalakan computer. Drrrrrr..ddrrrrrr… henponku bergetar. Ada sms masuk. Dari Atik adikku yang jagain Bev. Tumben sms aku jam segini, batinku. Aku buru-buru buka dan baca smsnya. Bunyinya:
” Kak, Bev jatuh dari tempat tidur, tapi dia tidak apa-apa kok. Kepalanya duluan, jidatnya merah. Tapi udah kupijat-pijat kok”.
Aku terkesiap membaca sms itu. Lalu aku menelepon adikku Atik. Aku berusaha untuk tidak panik.
“Halo “ kata Atik di sebrang sana
“Kenapa bisa jatuh? “ Kataku
“ Iya, tadi kan dia tidur, aku sambil buka laptop di meja kerja. Eh, tiba-tiba aku denger suara brakkkkk”
“Trus? “ Lanjutku
“Iya, tapi dia ceria kok. Cuman tadi pas kupijat pijatnya dia nangis kencang.” Kata Atik
“Bagian mana yang duluan jatuh?” Kataku
“Nggak tau, soalnya dia sudah telentang pas aku liat.” Kata Atik
Tentunya nalusi seorang ibu bergetar mendengar anaknya jatuh dari tempat tidur. Rasanya pengen berlari pulang ke rumah dan mendekap, mengelus-elus kepala Bev yang benjol nyium lantai.
Itulah peristiwa untuk kedua kalinya Bev jatuh dari tempat tidur. Setelah itu akhirnya kami memutuskan untuk menurunkan tempat tidur springbed bertingkat dua. Karena tidak bisa dijamin Bev akan terjun bebas lagi untuk ketiga-keempat, kelima kalinya.
Walau dikata klo belum jatuh delapan kali bukan bayi namanya, tapi kan takut juga kalau-kalau nanti malah kenapa-kenapa ya. Satunya kasurnya kami pakai, satunya lagi diungsikan ke rumah si bou. Mana si bou lagi tidak di tempat. Mudah-mudahan si bou nanti pas pulang ke rumahnya tidak keberatan.
” Kak, Bev jatuh dari tempat tidur, tapi dia tidak apa-apa kok. Kepalanya duluan, jidatnya merah. Tapi udah kupijat-pijat kok”.
Aku terkesiap membaca sms itu. Lalu aku menelepon adikku Atik. Aku berusaha untuk tidak panik.
“Halo “ kata Atik di sebrang sana
“Kenapa bisa jatuh? “ Kataku
“ Iya, tadi kan dia tidur, aku sambil buka laptop di meja kerja. Eh, tiba-tiba aku denger suara brakkkkk”
“Trus? “ Lanjutku
“Iya, tapi dia ceria kok. Cuman tadi pas kupijat pijatnya dia nangis kencang.” Kata Atik
“Bagian mana yang duluan jatuh?” Kataku
“Nggak tau, soalnya dia sudah telentang pas aku liat.” Kata Atik
Tentunya nalusi seorang ibu bergetar mendengar anaknya jatuh dari tempat tidur. Rasanya pengen berlari pulang ke rumah dan mendekap, mengelus-elus kepala Bev yang benjol nyium lantai.
Itulah peristiwa untuk kedua kalinya Bev jatuh dari tempat tidur. Setelah itu akhirnya kami memutuskan untuk menurunkan tempat tidur springbed bertingkat dua. Karena tidak bisa dijamin Bev akan terjun bebas lagi untuk ketiga-keempat, kelima kalinya.
Walau dikata klo belum jatuh delapan kali bukan bayi namanya, tapi kan takut juga kalau-kalau nanti malah kenapa-kenapa ya. Satunya kasurnya kami pakai, satunya lagi diungsikan ke rumah si bou. Mana si bou lagi tidak di tempat. Mudah-mudahan si bou nanti pas pulang ke rumahnya tidak keberatan.
I did it, I did it
Seperti biasa sebelum menulis apa-apa di blog sendiri aku pasti blogwalking dulu ke blog teman-teman selain liat dasboard untuk approved comment tentunya. Sampai kadang-kadang lupa apdet di blog sendiri karena keasikan baca sana sini.
Yayyyy... siang ini aku tertarik dengan edit fotonya mbak Reni. Hasilnya bisa jadi macam-macam. Aku coba utak-atik foto Bev juga. Biar lebih kelihatan cantik gituh loh.
Aku coba pakai beberapa link edit foto yang mbak Reni pakai. Tapi kucinta banget dengan hasil loonapix ini. Aku hanya pakai satu objek foto Bev. Klik...klikk...kliiiikkk dannnnn...
Ini dia hasil editan dadakan siang ini. I DID IT!! I DID IT!! Sambil jingrak-jingrak ala dora.

cinta banget dengan ini, foto Bev mejeng di atas Piano.

Bev is a present :)


cute calendar buat wallpaper kompi deh..
Yayyyy... siang ini aku tertarik dengan edit fotonya mbak Reni. Hasilnya bisa jadi macam-macam. Aku coba utak-atik foto Bev juga. Biar lebih kelihatan cantik gituh loh.
Aku coba pakai beberapa link edit foto yang mbak Reni pakai. Tapi kucinta banget dengan hasil loonapix ini. Aku hanya pakai satu objek foto Bev. Klik...klikk...kliiiikkk dannnnn...
Ini dia hasil editan dadakan siang ini. I DID IT!! I DID IT!! Sambil jingrak-jingrak ala dora.

cinta banget dengan ini, foto Bev mejeng di atas Piano.

Bev is a present :)


cute calendar buat wallpaper kompi deh..
Mar 24, 2011
Sharing: Smart Patient
Category: Books
Genre: Health, Mind & Body
Author: dr. Agnes Tri Harjaningrum
Sharing, semoga berguna buat yang membaca...
(dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum - http://bundaagnes.multiply.com/)
** Dimana Salahnya?**
Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian
tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.
"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."
Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"
Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.
"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"
Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"
Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"
Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.
"Just drink a lot," katanya ringan.
Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.
"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.
Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.
Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.
"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.
Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.
"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok."
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."
Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.
"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.
"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.
Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun." Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."
Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.
Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
http://agnes.ismailfahmi.org/books/smart-patient.php#book
Genre: Health, Mind & Body
Author: dr. Agnes Tri Harjaningrum
Sharing, semoga berguna buat yang membaca...
(dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum - http://bundaagnes.multiply.com/)
** Dimana Salahnya?**
Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian
tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.
"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."
Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"
Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.
"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"
Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"
Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"
Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.
"Just drink a lot," katanya ringan.
Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.
"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.
Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.
Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.
"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.
Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.
"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok."
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."
Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.
"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.
"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.
Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun." Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."
Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.
Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
http://agnes.ismailfahmi.org/books/smart-patient.php#book
Cerita Bev hari ini
Halo om/ Tante,
Apa kabar? Ini dengan Bev nih, Semoga semua sehat selalu ya. Jangan lupa minum air putih yang banyak biar sehat ya. Soalnya sekarang lagi musim influenza batuk pilek. Kayak Bev sekarang pilek lagi. Bev sedih deh, soalnya klo Bev tidur jadinya terganggu. Karena hidung Bev mampet. Udah gitu sekarang malah ingusan. Bev jadinya agak rewel.
Kok Bev pilek lagi?
Iya om/tante, emang bulan lalu Bev udah kena batuk pilek ya. Ehhh… gak lama mama Bev yang sakit pilek. Trus Pung-pung , trus Ante Atik. Sekarang Bev kena lagi deh. Mamaku lupa nyiapin masker di rumah. Jadinya virusnya muter-muter di rumah kami.
Karena pilek seperti biasa aku makannya juga rada susah nih om/Tante, soalnya tenggorokan Bev gatel dan hidungnya mampet (maaf ya mama) ,padahal mamaku sudah masakin makananku macam-macam loh. Mamaku memang koki handal. Versi aku loh yaaaa.
Tiap pagi mamaku siapin makananku untuk tiga kali makan. Dua kali makan bubur dan satu kali makan buah diselingin minum ASIP. Walo kata tante Pingkan boleh disiapin untuk makanan 2 hari (Maksimal 48 jam) tapi mamaku nggak tega sih katanya. Ya udah deh jadilah mamaku siapin makanan fresh buatku setiap hari.
Kemarin mamaku beliin aku boneka. Ini dia.

Kata mamaku biar ada temanku klo papa/mamaku lagi kerja. Bonekanya cantik ya. Trus bisa bunyi. Dan kepalanya bisa ngangguk-ngangguk. Aku suka liatnya (maacih ya mama).
Oh iya, pada kangen nggak ama Bev? udah lama ya mamaku nggak kasi foto aku di blog mamaku ini. Maaf ya om/Tante, soalnya kamera mamaku lagi di pake papaku. Nanti ya. Bev janji nanti dikasi yang baru deh. Buat pelepas rindu Bev kasi foto yang ini ya :)

Tapi pipi gembulku nggak boleh dicubit ya? janji ya....
Oh iya, sekarang gigiku udah tumbuh dua dan aku sudah bisa duduk tegak loh om/tante. Trus aku sudah bisa berdiri sendiri sambil pegangan. Aku suka banget klo diajak papa/mamaku berdiri sambil dorong kursi. Tapi aku masih sering jatuh dan aku bangkit lagi. Klo aku diangkat papa/mamaku pasti aku nangis deh.
Klo mamaku lagi memasak di dapur, aku didudukin di kursi kebangsaanku (high chair). Trus mamaku nyetelin film Kartun Barney. Aku suka banget nonton Barney. Mamaku takut naruh di tempat tidur takut aku jatuh lagi. Oiya, kemarin soalnya aku jatuh lagi untuk yang kedua kalinya. Jidat kiriku yang duluan nguncep di lantai. Aku menangis kenceng. Waktu itu mamaku sudah berangkat ke kantor. Aku di rumah dengan tanteku. Pas waktu itu kan aku bobo di kasur. Trus tanteku duduk di kursi belajar papaku dekat kasur mamaku sambil buka laptop. Aku bangun dan aku merangkak kea rah tanteku. Aku tidak tau klo itu tinggi. Ya udah deh, aku jatuh lagi. Huhuhuhu… Jidatku benjol dan merah langsung dipijat-pijat tante. Sakit banget dan aku menangis keras.
Sekian dulu ya ceritaku hari ini. Bev mau mandi dulu, trus minum susu, trus bobo deh sambil menunggu papa/mamaku pulang kerja.
Sampai ketemu lagi
Apa kabar? Ini dengan Bev nih, Semoga semua sehat selalu ya. Jangan lupa minum air putih yang banyak biar sehat ya. Soalnya sekarang lagi musim influenza batuk pilek. Kayak Bev sekarang pilek lagi. Bev sedih deh, soalnya klo Bev tidur jadinya terganggu. Karena hidung Bev mampet. Udah gitu sekarang malah ingusan. Bev jadinya agak rewel.
Kok Bev pilek lagi?
Iya om/tante, emang bulan lalu Bev udah kena batuk pilek ya. Ehhh… gak lama mama Bev yang sakit pilek. Trus Pung-pung , trus Ante Atik. Sekarang Bev kena lagi deh. Mamaku lupa nyiapin masker di rumah. Jadinya virusnya muter-muter di rumah kami.
Karena pilek seperti biasa aku makannya juga rada susah nih om/Tante, soalnya tenggorokan Bev gatel dan hidungnya mampet (maaf ya mama) ,padahal mamaku sudah masakin makananku macam-macam loh. Mamaku memang koki handal. Versi aku loh yaaaa.
Tiap pagi mamaku siapin makananku untuk tiga kali makan. Dua kali makan bubur dan satu kali makan buah diselingin minum ASIP. Walo kata tante Pingkan boleh disiapin untuk makanan 2 hari (Maksimal 48 jam) tapi mamaku nggak tega sih katanya. Ya udah deh jadilah mamaku siapin makanan fresh buatku setiap hari.
Kemarin mamaku beliin aku boneka. Ini dia.

Kata mamaku biar ada temanku klo papa/mamaku lagi kerja. Bonekanya cantik ya. Trus bisa bunyi. Dan kepalanya bisa ngangguk-ngangguk. Aku suka liatnya (maacih ya mama).
Oh iya, pada kangen nggak ama Bev? udah lama ya mamaku nggak kasi foto aku di blog mamaku ini. Maaf ya om/Tante, soalnya kamera mamaku lagi di pake papaku. Nanti ya. Bev janji nanti dikasi yang baru deh. Buat pelepas rindu Bev kasi foto yang ini ya :)

Tapi pipi gembulku nggak boleh dicubit ya? janji ya....
Oh iya, sekarang gigiku udah tumbuh dua dan aku sudah bisa duduk tegak loh om/tante. Trus aku sudah bisa berdiri sendiri sambil pegangan. Aku suka banget klo diajak papa/mamaku berdiri sambil dorong kursi. Tapi aku masih sering jatuh dan aku bangkit lagi. Klo aku diangkat papa/mamaku pasti aku nangis deh.
Klo mamaku lagi memasak di dapur, aku didudukin di kursi kebangsaanku (high chair). Trus mamaku nyetelin film Kartun Barney. Aku suka banget nonton Barney. Mamaku takut naruh di tempat tidur takut aku jatuh lagi. Oiya, kemarin soalnya aku jatuh lagi untuk yang kedua kalinya. Jidat kiriku yang duluan nguncep di lantai. Aku menangis kenceng. Waktu itu mamaku sudah berangkat ke kantor. Aku di rumah dengan tanteku. Pas waktu itu kan aku bobo di kasur. Trus tanteku duduk di kursi belajar papaku dekat kasur mamaku sambil buka laptop. Aku bangun dan aku merangkak kea rah tanteku. Aku tidak tau klo itu tinggi. Ya udah deh, aku jatuh lagi. Huhuhuhu… Jidatku benjol dan merah langsung dipijat-pijat tante. Sakit banget dan aku menangis keras.
Sekian dulu ya ceritaku hari ini. Bev mau mandi dulu, trus minum susu, trus bobo deh sambil menunggu papa/mamaku pulang kerja.
Sampai ketemu lagi
Subscribe to:
Posts (Atom)















